Ust Mursyid, Buruh Pabrik Pengelola Pesantren

Meninggalkan pekerjaan yang sudah membuatnya hidup berkecukupan memang bukan perkara yang mudah. Ustadz Mursyid adalah salah satu sosok yang patut dijadikan contoh bahwa kebahagiaan yang hakiki terletak pada hati bukan pada materi. Memulai aktifitas sebagai seorang pekerja pabrik sekaligus pengajar iqra di salah satu madrasah diniyah di daerah Serang, Banten sejak tahun 1996. Beliau dibantu 3 rekannya menjadi pengelola inti madrasah diniyah yang kini sudah tidak beroprasi lagi sejak tahun 1998. Nasib berkata lain, belum genap setahun beliau lepas dari madrasah diniyah, ia bertemu dengan Ust Ofah Arofah. Seorang pria yang membawanya hingga saat ini menjadi salah satu pengajar di Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Sabilurrahman Serang dibawah Yayasan Semai Benih Ilmu (SEBI).  Pekerjaan sebagai karyawan pabrik tidak lantas membuatnya meraih kebahagiaan yang seutuhnya, pasalnya ia memiliki cita cita ingin belajar di pondok pesantren namun terkendala perekonomian keluarganya saat itu.


Pada tahun 2013, Ust Mursyid meninggalkan pekerjaannya sebagai karywan pabrik dan memilih untuk membantu Ust Ofah mengembangkan dan mengelola Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Sabilurrahman. ia juga siap untuk berpenghasilan jauh dari cukup seperti yang telah ia dapatkan ketika menjadi karyawan pabrik. Pendapatan yang ia terima perbulan hanya 10% dari gaji yang ia terima di pabrik, yaitu 300 ribu rupiah. Meski ia memiliki usaha sambilan dengan berjualan makanan ringan di dalam pondok pesantren, namun pengahasilan tambahan tersebut belum mencukupi kebutuhan Ust Mursyid dengan 3 orang anaknya. Berbekal pengalaman mengajar diniyah pada masa itu, ia bisa mengajarkan ilmu yang sudah di dapatnya di diniyah, sekaligus menikmati cita cita atau keinginannya sejak dulu yaitu ingin tinggal di lingkungan pesantren. Seperti gayung bersambut, kesempatan dan keinginan sejalan dengan keadaan hati yang sangat ingin bermanfaat di jalan Allah. Keberadaan Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Sabilurrahman saat ini masih menjadi hal yang tabu untuk warga sekitar. Tantangan yang dihadapi Ust Mursyid dan juga para pengelola disana juga datang dari para pemuda setempat yang merasa  kurang nyaman dengan keberadaan pondok pesantren tersebut.


Banyak hal yang telah ia dapati selama menjadi pejuang di jalan Allah. Salah satunya adalah kesempatan untuk melakukan sholat malam atau  qiyamul lail dan sholat dhuha yang belum sempurna terlaksana ketika menjadi karyawan pabrik. Sholat malam dan sholat dhuha secara sempurna adalah cita cita yang ingin Ust Mursyid wujudkan selama ini. Saat ini Ust Mursyid juga belajar bersama para santri untuk menghafal surat surat atau setoran bergantian. Karena dari para santri pula, Ust Mursyid banyak belajar mengelola kesabaran, emosi dan ketaatan kepada Allah. Harapan dan cita cita pun tercurah untuk santri di Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Sabilurrahman, yaitu agar para santri menjadi anak yang berakhlakul karimah dan senantiasa terus membaca quran.

  


Komentar
Beri Komentar

Program
News Update