Makan Berlebihan Bikin Lambung Pecah, Kok Bisa?

Pada setiap perayaan, baik itu saat hari besar keagamaan, liburan, atau acara keluarga, makan bersama adalah kegiatan utamanya. Makanan yang berlimpah di meja makan bisa membuat kita makan berlebihan.

Tetapi apa yang terjadi jika kita mengabaikan sinyal tubuh kalau kita harus berhenti makan?

Setelah sekian generasi sejak evolusi, tubuh manusia telah mengasah naluri yang memaksa kita untuk makan. Lagi pula, tanpa makanan yang memberi nutrisi dan energi, kelangsungan hidup bisa terganggu.

Di sisi lain, mekanisme biologis yang memberi tahu kita untuk berhenti makan belum sepenting itu. Selama satu milenium terakhir ini sangat jarang ada orang yang menderita gara-gara makan berlebihan.

Seiring perubahan zaman, sensasi terlalu kenyang lebih akrab untuk beberapa orang dibanding rasa lapar yang sangat.

Ketika perut kita kosong, hormon tertentu mengirim sinyal ke otak untuk memberitahu bahwa kita lapar. Sebaliknya, satu set hormon yang berbeda memberi tanda kepada kita untuk berhenti makan ketika perut terpuaskan. Tentu artinya makanan tersebut rasanya enak.

Manusia memang sangat menikmati makan."Anda bisa merasa kenyang, walau perut sudah penuh makanan kemudian dessert datang dan kita makan lebih banyak," kata Diana Williams, Profesor Psikologi dan Neurosience.

Kecintaan terhadap makanan ternyata tidak cukup untuk menyebabkan efek kesehatan yang merugikan.

Konsekuensi negatif itu akan kita dapat mungkin setelah kita mengesampingkan refleks alami yang menjaga kita dari makan hingga titik yang benar-benar membuat meledak.

Terlalu kenyang

Lambung kita normalnya bisa menampung sekitar 1 hingga 1,5 liter makanan dan minuman, ini adalah titik ketika kita mulai merasa tidak nyaman, saat kekenyangan.

Jika makan lebih banyak lagi, dan laporan akan menunjukkan kita akan baik-baik saja, bisa menampung hingga 3 liter. Banyak kasus "perut seperti meledak" terjadi setelah kita makan 4 sampai 5 liter makanan.

"Anda bisa membuat pecah perut Anda jika makan terlalu banyak. "Hal ini mungkin, tetapi jarang," kata Dr Rachel Vreeman, asisten profesor pediatri di Indiana University School of Medicine.

Pecah perut, juga disebut perforasi gastrointestinal, terjadi ketika sebuah lubang terbentuk dalam perut. Jika makanan tidak keluar melalui mulut seperti muntah, itu akan memberi tekanan pada dinding perut hingga puncaknya.
Isi perut kemudian terbuang ke dalam rongga perut di mana bisa menyebabkan infeksi dan rasa sakit. Jika intervensi bedah tidak dilakukan, orang tersebut bisa mati.

Kejadian dramatis tersebut hanya mungkin disebabkan mengonsumsi makanan secara berlebihan hingga titik di mana orang tersebut mengabaikan reflek muntah dan terus makan.

Ini sangat jarang terjadi pada siapa saja yang tidak menderita gangguan pola makan atau menderita gangguan mental.

"Mereka memiliki kebiasaan makan yang tidak biasa hingga tingkat refleks alami tubuh mereka hingga tidak lagi merespon dengan baik," kata Vreeman.

Seharusnya tubuh memuntahkan makanan pada saat yang tepat, tapi hal itu tak terjadi.

kemudian perut menjadi sangat buncit dan otot-otot perut terlalu teregang sehingga tidak cukup kuat untuk mengeluarkan makanan.

Hanya ada beberapa kasus di mana makan berlebihan tampaknya menjadi penyebab mematikan, dan kebanyakan pada individu yang memiliki gangguan makan.

Dalam penelitian yang meneliti penderita sindrom Prader-Willi, ditandai dengan keinginan makan tak terkendali dan obesitas, hanya ditemukan tiga persen kematian yang disebabkan pecahnya lambung.

"Bahkan jika Anda mulai merasa sedikit sakit atau lelah dan kewalahan karena makan terlalu banyak di hari raya, Anda masih jauh, sangat jauh dari skenario di mana Anda akan membuat perut Anda meledak," Vreeman menjelaskan.

Jika semua orang mendengarkan naluri alami dan sinyal tubuh mereka, tidak ada yang perlu dikhawatirkan selain bagian pinggang di celana yang terasa ketat. 

(Sumber: kompas.com) (Am-SB)

 

Komentar
Beri Komentar

Program
News Update